Penyayang Binatang, Pelestari Satwa

Ancaman pembunuhan dan penganiayaan tak membuat nyali Femke ciut untuk menyelamatkan satwa yang dieksploitasi tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Femke den Haas

Jelajahin.com – Kantor Jakarta Animal Aid Network (JAAN) di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan Senin siang (9/3) kali itu tampak sunyi. Semula kami mengira, begitu memasuki area halaman akan disambut oleh lolongan anjing, jeritan primata, atau suara hewan-hewan liar lainnya. Maklum, hari itu kami mendatangi markas JAAN, organisasi nirlaba yang sejak 2008 silam bergerak dalam bidang perlindungan dan penyelamatan satwa liar di Indonesia. Kami membayangkan, kantor itu juga sebagai tempat penampungan sementara bagi satwa yang berhasil diselamatkan.

Seorang perempuan paruh baya berjilbab membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk. Ruang tamu kantor itu tak begitu luas—mungkin kira-kira sekitar 4×4 meter. Pandangan kami tertuju pada deretan kandang berdinding kawat ram setinggi kira-kira 1,5 meter di ruang belakang yang dibatasi tembok berjendela kaca. Meski tak ada satu pun hewan di sana, paling tidak dugaan kami tidak sepenuhnya salah. Kantor ini juga menjadi tempat penampungan sementara (shelter) bagi satwa yang berhasil diselamatkan.

Saat kami sibuk mengamati kandang, seorang perempuan bule menghampiri kami. Ia adalah Femke den Haas, salah satu sosok yang membidani lahirnya JAAN.

Sudah lebih dari dua dekade Femke meninggalkan tanah kelahirannya dan memilih mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan satwa-satwa liar Indonesia yang tercerabut dari habitatnya. Baik karena diperdagangkan di pasar gelap, dieksploitasi untuk tujuan komersial, maupun yang telantar karena bencana alam.

“Sejak kecil saya sangat menyayangi binatang,” kata Femke membuka perbincangan. Saking sayangnya kepada binatang, sejak usia delapan tahun dokter spesialis penanganan satwa liar lulusan Universitas Leiden, Belanda ini sudah tidak mengonsumsi daging, alias vegetarian.

Kepincut orang utan

Sebelumnya Femke tak pernah membayangkan bakal menetap dan menjadi aktivis penyelamat satwa di Indonesia. Semua bermula pada tahun 1996, ketika sang ayah yang bekerja di Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia mengajaknya ke Indonesia. Kecintaannya kepada satwa membuatnya tergerak untuk mempelajari berbagai hal tentang kekayaan fauna Indonesia. Saat itu ia tertarik pada primata Indonesia, terutama orang utan. Femke pun bertekad untuk mempelajari lebih dekat orang itu ke habitat aslinya di daerah Kalimantan. Ia pun mengirim aplikasi ke Kalimantan Wanariset Orang Utan untuk proyek rehabilitasi, meski usianya saat itu masih 16 tahun. Gayung pun bersambut, lamaran itu diterima.

Sayangnya, keputusan Femke sempat tak direstui ayahnya karena untuk ikut program itu ia harus meninggalkan bangku sekolah menengah atasnya. Namun, Femke bersikeras. Baginya, pengorbanan itu sebanding dengan pengalaman yang akan diperoleh. Setelah mendapatkan izin, ia pun berangkat ke Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Saya melakukan kunjungan selama enam bulan menjadi sukarelawan. Saat itu membantu pelepasan orang utan. Saya ikut tinggal di hutan selama sekitar enam bulan bersama tim. Di situlah saya pelajari tentang keluarbiasaan orang utan, tentang habitatnya, tentang keindahan jenis satwa Indonesia,” kenang perempuan kelahiran Yaoende, Cameroon 1977 ini.

Setelah program itu selesai, Femke kembali ke Belanda untuk melanjutkan sekolahnya. Ia kemudian kuliah mengambil jurusan paramedis hewan di Leiden University. Lulus kuliah ia melanjutkan sertifikasi untuk penanganan satwa liar di Utrecht dan bekerja di sana menangani satwa selundupan yang masuk ke negaranya. Pekerjaan itulah yang membuatnya ingin kembali ke Indonesia karena banyak penyelundupan satwa berasal dari Indonesia.

Baca Juga: Menggali lagi Nilai Hanjeli

 

Tugas kami adalah penyelamatan satwa dari perdagangan liar, relokasi satwa dan edukasi kepada publik pentingnya melestarikan satwa.”

Namun, keinginan Femke tertunda karena ia harus menyelesaikan tugas bekerja di Afrika untuk konservasi simpanse dan Animal Shelter di Yunani. Ia baru bisa ke Indonesia pada tahun 2002 setelah mendapat undangan dari Pusat Primata Schmutzer (PPS) Kebun Binatang Ragunan. Yayasan itu adalah hibah yang dibiayai oleh Pauline Antoinette Schmutzer-versteegh, seorang kebangsaan Belanda yang menjadi Warga Negara Indonesia. Sebelum meninggal pada 1998, Schmutzer yang sebelumnya pernah bertemu sekali dengan Femke berwasiat agar Femke mau menjadi salah satu orang yang membantu membuatkan konsep standardisasi pusat perawatan primata. Berbekal ilmu semasa kuliah dan pengalamannya, Femke pun menerima tawaran itu.

“Saya merasa sangat bermanfaat. Pada saat itu masih hal baru, belum ada yang melakukan—untuk apa satwa harus dilestarikan. Saya merasa, ini sangat dibutuhkan dan bisa menjadi kunci menyelamatkan satwa yang sering diperdagangkan,” kata Femke.

Awalnya program pun berjalan mulus. Apalagi menurutnya pemerintah Indonesia mendukung. Saat itu, bersama pemerintah ia terlibat dalam pembangun enam pusat penyelamatan satwa di Indonesia yang berlokasi di Sulawesi, Jawa, Bali, dan Kalimantan Barat. Di Jawa salah satunya adalah Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur, Cengkareng, Tangerang yang khusus menangani hewan-hewan hasil sitaan dari perdagangan gelap.

Femke den Haas

Beberapa tahun berjalan Femke kecewa setelah proyek itu dihentikan karena ada konflik manajemen dengan pemerintah. Dana operasional pun dihentikan. Namun, Femke tak ingin berhenti di tengah jalan karena usaha itu telah menghabiskan waktu, dana dan tenaga yang tidak sedikit.

“Saya bilang, saya enggak mau tinggalkan ini semua. Kita sudah berjuang keras untuk membangun ini. Kalau saya cari jalan gampang, saya tinggal. Tapi kita harus tetap melanjutkan ini.”

JAAN lahir

Tak ingin terjebak dalam konflik itu, Femke bersama Karin Franken dan Natalie Stewart yang sama-sama memiliki kecintaan yang besar terhadap binatang membentuk JAAN. Organisasi ini bekerja sama dengan pemerintah dan lebih berfokus mencari dukungan untuk pusat penyelamatan satwa hingga siap dilepasliarkan ke habitatnya. JAAN juga melakukan pendidikan ke sekolah-sekolah dasar dengan media wayang atau boneka untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya melestarikan satwa.

“Tugas kami adalah penyelamatan satwa dari perdagangan liar, relokasi satwa dan edukasi kepada publik pentingnya melestarikan satwa. Dengan melestarikan satwa, kita melestarikan bumi, melestarikan hutan, dan melestarikan diri sendiri,” tegas Femke.

Femke menegaskan, eksploitasi hewan tak hanya perbuatan kejam terhadap hewan tetapi juga akan merugikan manusia. Contoh nyatanya adalah merebaknya virus korona saat ini.

“Sekarang terjadi wabah korona. Tahun 2002 pas saya datang ada kasus virus SARS. Itu sedikit sama karena dua-duanya berasal dari orang yang tidak bertanggung jawab mengonsumsi hewan liar,” kata Femke.

Seiring berkembangnya waktu, jaringan JAAN kini tersebar ke seluruh Indonesia. Di antaranya konservasi elang bondol di Kepulauan Seribu, Jakarta; pusat rehabilitasi lumba-lumba, di Karimunjawa, Jawa Tengah; kpnservasi satwa di Bali; Sumatera; dan di daerah lainnya. Satwa yang diselamatkan pun cukup beragam. Mulai dari kucing liar, hingga hewan-hewan langka yang dilindungi.

Pekerjaan Femke bukan tanpa risiko. Ia pernah menerima penganiayaan, dan mendapat ancaman pembunuhan dari orang-orang yang merasa terganggu kepentingannya. Namun, ia mengaku tak akan mundur. Ia telah bertekad untuk terus menyelamatkan satwa dari orang-orang tak bertanggung jawab yang hanya memikirkan kepentingan sesaat. Baginya, hewan bukan untuk dieksploitasi, tetapi disayangi dengan cara dijaga tetap berada di dalam habitat aslinya.

Hanjarwadi W
W Hanjarwadi lama berprofesi sebagai jurnalis di majalah nasional serta bekerja sebagai penulis lepas. Saat ini banyak menghabiskan waktu sebagai travel reviewer dan konten kreator.