Menggali lagi Nilai Hanjeli

Hanjeli yang biasanya tumbuh liar sebagai tanaman pagar disulap menjadi komoditas pangan bernilai ekonomi tinggi.

#image_title

Hamparan tanaman jali itu tumbuh di hamparan ladang warga Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Sukabumi yang berada di ketinggian 650 meter di atas permukaan laut (mdpl). Helai daun-daun tumbuhan biji-bijian atau serealia tropika dari suku padi-padian bernama latin Coix lacryma-jobi itu sekilas mirip daun jagung. Warga Sukabumi mengenal tanaman itu sebagai hanjeli. Di Jawa tumbuhan ini di kenal dengan tanaman jali. Orang Betawi mengabadikan tanaman ini dalam lagu gambang kromong “Jali-Jali”.

Hanjeli memiliki beberapa varietas. Ada yang bisa dikonsumsi sebagai pengganti makanan pokok sumber karbohidrat juga sebagai obat. Varietas ini masuk dalam golongan Coix lacryma-jobi varietas ma-yuen. Sementara Coix lacryma-jobi varietas lacryma-jobi memiliki cangkang (pseudokarpium) keras sehingga tidak dapat dikonsumsi. Jenis ini biasanya hanya digunakan sebagai manik-manik atau perhiasan.

Tanaman jali sejatinya sudah tumbuh di Nusantara sejak zaman dulu. Dahulu, masyarakat mengolah jali menjadi berbagai makanan misalnya nasi, bubur, aneka macam kue dan makanan yang difermentasi seperti tape. Di dunia internasional, tanaman ini bahkan dikenal sebagai Chinese pearl wheat (gandum mutiara Cina). Namun, kini sang mutiara itu terabaikan, bahkan keberadaannya nyaris terlupakan. Ia lebih banyak tumbuh liar sebagai tanaman pagar atau sekadar untuk pakan ternak. Padahal, tanaman ini potensial sebagai bahan pangan pengganti atau diversifikasi.

“Kandungan gizi hanjeli dua kali lipat dari beras. Proteinnya hampir dua kali lipat. Kaya serat dan rendah karbo.”

Adalah Asep Hidayat Mustopa, pemuda asli Waluran, Sukabumi yang kini perlahan berhasil mengembalikan kejayaan tanaman hanjeli. Semua bermula sekitar tahun 2010 silam. Ketika itu ia sepulang dari Arab Saudi sebagai pekerja migran dan telah memantapkan diri untuk menetap di kampung halaman. Sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan petani, Asep merasa prihatin melihat tanaman hanjeli nyaris tak ada yang memanfaatkan. Padahal, dari literasi yang ia baca, tanaman itu kaya akan nutrisi.

“Hari ini hanjeli sudah mulai langka di Indonesia. Makanya kami coba mengonservasikan biar tidak punah. Jangan sampai teman-teman tahunya hanya dari Google saja. Alhamdulillah, lambat laun jadi banyak yang mengenal juga,” tutur Asep kepada Jelajahin.com akhir Januari 2021 lalu.

Baca juga: Aroma Perjuangan di Sekilo Kopi

Didorong rasa penasaran, Asep pun mulai riset kecil-kecilan. Akhirnya ia pun semakin tahu bahwa biji hanjeli memiliki kandungan nutrisi tinggi. Kandungan protein dan lemak bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan beras dan gandum. Selain itu, tanaman ini dari ujung akar hingga daunnya berkhasiat sebagai herbal.

Budidaya tanaman hanjeli di Desa Waluran Mandiri Kecamatan Waluran Sukabumi

“Kandungan gizi hanjeli dua kali lipat dari beras. Proteinnya hampir dua kali lipat. Kaya serat dan rendah karbo. Artinya, hanjeli ini cocok untuk yang diet, juga untuk anak-anak stunting,” terang pria kelahiran Sukabumi 1 Desember 1987 itu.

Untuk memperdalam pengetahuannya, Asep yang saat menjadi pekerja migran juga pernah kuliah di Arab Saudi ini pun menggandeng perguruan-perguruan tinggi di Jawa Barat untuk memperdalam risetnya. Tiga tahun lamanya Asep mencoba mengenal karakter hanjeli. Ia berkolaborasi dengan Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia Sukabumi, dan Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Dibantu kampus, ia juga melakukan kajian kondisi lahan yang cocok untuk ditanami hanjeli. “Hanjeli ini salah satu tanaman yang bisa mengembalikan unsur hara menjadi netral lagi atau bioremediasi,” lanjut Asep.

Asep juga menjelaskan, akar serabut hanjeli yang kokoh juga bermanfaat untuk menahan longsor. Dari berbagai fakta itu, Asep pun bertekad membudidayakan hanjeli dengan serius. Apalagi karakter hanjeli yang bisa tumbuh di ketinggian 100–1200 mdlp cocok ditanam di daerahnya yang memiliki ketinggian 650 mdlp.

Sejak itu Asep menanami ladangnya dengan hanjeli. Dua tahun berjalan, Asep mulai menuai untung berbisnis hanjeli. Kala itu keuntungan menjual biji hanjeli bisa mencapai Rp 3 juta per bulan.

Menggerakkan warga

Saat biji hanjeli sudah terbukti menghasilkan nilai ekonomi lebih baik, Asep tergerak untuk mengajak warga. Apalagi ia melihat warga di kampung halamannya masih belum berkembang. Kaum lelaki lebih banyak mengandalkan pekerjaan sebagai penambang emas ilegal, sementara para ibu menjadi pemukul bongkahan batuan tambang. Lahan-lahan pertanian mereka tidak terurus. Asep pun mengajak warga yang memiliki lahan tidur untuk bertanam hanjeli.

Berkat ketekunannya, hanjeli kini tumbuh subur di Sukabumi. Asep pun berani menawar gabah hanjeli Rp 4.000–Rp 5.000 per kilogram, lebih mahal ketimbang padi huma, Rp 3.000–Rp 3.500 per kg untuk dijual lagi. Satu pak hanjeli kemasan 250 gram dipasarkan Asep seharga Rp 10.000 per pak dengan sasaran konsumen Bandung, Jakarta dan sekitarnya, baik secara luring maupun daring.

“Dulu di kampung kami hanjeli harganya per kilo enggak sampai 2000 rupiah. Itu pun jarang yang mau membeli. Tetapi setelah kami create potensinya luar biasa. Harganya sampai hampir tiga kali lipat,” kata Asep.

Untuk meningkatkan nilai ekonomi warga, biji hanjeli kini tak hanya dijual ke luar daerah dalam bentuk beras, tetapi diolah menjadi berbagai macam produk turunan. Mulai dari tepung hanjeli, produk jadi seperti kue, dodol hanjeli, rangginang dan banyak macam lagi. Asep juga menggerakkan warga dengan memperkenalkan program yang ia sebut pirus, akronim dari pipir imah diurus atau memanfaatkan pekarangan sekitar rumah sebagai perladangan sederhana untuk meningkatkan ketahanan pangan desa.

Setelah hanjeli kian populer di kampung halaman dan desa-desa sekitar, Asep pun mengembangkan konsep agrowisata berbasis komunitas atau integrated tourism farming (ITF) di Desa Waluran dengan hanjeli sebagai ikonnya. Di sana mereka bisa belajar mengenal dan mengolah anjeli, sembari menginap di homestay yang disediakan oleh warga setempat.

“Kampung kami dibuat menjadi kampung wisata edukasi khusus budidaya dan olahan anjeli, dari hulu hingga hilir. Dari hulu, wisatawan bisa tahu mulai dari cara tanam, perawatan, cara panen—proses setelah panen, kan, ditumbuk pakai lesung juga. Nah, ini kami kemas dalam sajian wisata. Begitu juga produk olahannya,” jelas Asep.

Berkat ketekunan kolektif itu, kini Desa Waluran itu telah masuk sebagai bagian dari Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu yang ditetapkan UNESCO pada 2018 lalu. Kehidupan masyarakatnya pun kian mandiri. Alih-alih kembali menjadi pekerja migran, kini mereka lebih tertarik menetap di kampung sendiri sebagai menjadi pengusaha mandiri.

“Masyarakat yang kami ajak rata-rata yang purnamigran atau TKI di luar negeri. Yang bisa bahasa asing—Inggris, Mandarin, Arab, misalnya—kami ajak kolaborasi untuk menjadi pemandu wisatawan mancanegara,” kata pria yang mendapat penghargaan sebagai juara pertama Pelopor Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat dan Sukabumi Award 2019 sebagai pelaku usaha industri menengah berprestasi itu.

Di masa pandemi Covid-19 ini, warga bisa bertahan dengan memanfaatkan semua yang ditanam di sekitar pekarangan rumah. Mereka kian menghargai alam dengan memberdayakannya semaksimal mungkin. Tidak ada lagi lahan yang dibiarkan terbengkalai.

Hanjarwadi W
W Hanjarwadi lama berprofesi sebagai jurnalis di majalah nasional serta bekerja sebagai penulis lepas. Saat ini banyak menghabiskan waktu sebagai travel reviewer dan konten kreator.