Jelajahin.com – Derap pembangunan Jakarta menuju Kota Global agar mampu bersanding sejajar dengan kota-kota besar lainnya di dunia telah menjadi visi Pemerintah Provinsi Jakarta saat ini untuk segera diwujudkan. Kemajuan sarana infrastruktur yang modern dan penyediaan berbagai ruang publik seperti taman kota, perpustakaan, sarana olah raga, maupun tempat berkreasi kini dapat dinikmati oleh warga dengan lebih memadai dari sebelumnya.
Gencarnya pembangunan tersebut tak lantas menggerus berbagai peninggalan sejarah maupun budaya lokal yang justru semakin dihidupkan sebagai bagian penting dari pembentukan karakter bangsa. Salah satu peninggalan bersejarah sejak zaman kolonial yang tetap dipertahankan keasliannya adalah bangunan kuno yang sekarang beralih fungsi sebagai tempat ibadah yakni Masjid Cut Meutia. Bangunan klasik dengan arsitektur khas Batavia ini terletak di Jalan Taman Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat di bawah jalan layang kereta api dekat stasiun Gondangdia.
Warna putih mendominasi bangunan ini dengan langit-langit yang tinggi dan jendela berukuran besar. Pada mimbar khutbah dan pembatas shaf jamaah terpasang seperangkat ukiran kayu jati yang semakin mempercantik ruangan dalam masjid.
Jika sekilas melihat tampilannya sejak menapaki gerbang masuk, kita tidak akan menemukan kesan bahwa bangunan ini adalah sebuah masjid sebagaimana gambaran tempat ibadah masjid pada umumnya. Catatan sejarah bangunan klasik yang selesai dibangun pada 1912 ini mengungkap bahwa dulunya pemerintah kolonial Belanda memang menggunakan tempat ini sebagai kantor biro, kemudian berubah fungsi menjadi kantor pos. Lalu menjadi Kantor Jawatan Kereta Api Belanda sebelum akhirnya difungsikan sebagai Kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang di zaman pendudukan Jepang.
Kediaman Jenderal AH Nasution
Ketika Indonesia Merdeka dari penjajahan, bangunan ini pernah digunakan untuk kantor Wali Kota Jakarta Pusat, kantor Dinas Perumahan, kantor Perusahaan Daerah Air Minum, dan kantor pos. Bangunan bersejarah ini bahkan pernah menjadi tempat kediaman Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, Jenderal Abdul Haris Nasution sebelum akhirnya pindah ke Kawasan Senayan. Sejak kepindahan itu, tempat ini tidak digunakan lagi untuk kegiatan kantor mana pun dan mendiang Pak Nas (sapaan akrab Jenderal Nasution) mengusulkan untuk dijadikan masjid. Usulan itu ia sampaikan karena waktu itu kawasan Menteng relatif masih jarang berdiri masjid.
Beliau kemudian menginisiasi pembentukan remaja masjid Cut Meutia pada 1984 sebagai penggerak berbagai kegiatan ibadah maupun sosial kemasyarakatan. Pada 1987 gedung ini secara resmi beralih fungsi menjadi masjid dengan mengambil nama Cut Meutia yang merupakan pahlawan nasional asal Tanah Rencong. Penetapannya diatur melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta tanggal 18 Agustus 1987 yang kala itu dijabat oleh Raden Soeprapto. – Novita Hifni




























