Jelajahin.com – Kini sudah tidak zamannya lagi menghabiskan waktu liburan sekadar buru-buru check-in di hotel, foto-foto di spot ikonik, lalu pulang dengan galeri penuh tapi hati tetap kosong. Dalam beberapa tahun terakhir, cara orang menjalani liburan telah bergeser: wisatawan mulai mencari kedalaman pengalaman, bukan hanya deret panjang itinerary.
Survei dan outlook pariwisata 2024–2025 menunjukkan tiga kata kunci yang terus muncul: cultural immersion, health & wellness tourism, dan eco-tourism. Wisatawan ingin lebih dekat dengan warga lokal, merawat tubuh dan mental, sekaligus tetap peduli pada keberlanjutan.
Sederhananya, cultural immersion adalah cara berwisata ketika wisatawan tidak hanya melihat budaya dari kejauhan, tetapi masuk lebih jauh ke dalamnya. Mereka ikut menikmati kehidupan sehari-hari masyarakat lokal: tinggal bersama warga, ikut aktivitas, dan berinteraksi langsung, sehingga memahami nilai, cara pikir, dan gaya hidup mereka. Ternyata cara liburan seperti ini tidak hanya menyenangkan tetapi juga kaya makna.
Tren yang tak kalah menarik adalah health & wellness tourism. Ini adalah jenis perjalanan yang tujuan utamanya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan—baik fisik, mental, maupun spiritual—melalui aktivitas terencana seperti spa, yoga, meditasi, terapi tradisional, hingga retreat kebugaran. Intinya, health & wellness tourism bukan sekadar cara liburan seperti staycation di hotel yang punya kolam renang, tetapi perjalanan yang sejak awal memang didesain sebagai ruang pemulihan—untuk tubuh yang sedang lelah, untuk pikiran, dan bahkan, untuk kualitas hidup yang lebih baik ke depannya.
Tren selanjutnya adalah Eco-tourism (ekowisata), cara menikmati pariwisata alam sekaligus menekankan tanggung jawab menjaganya. Konsep wisata ini mengajak para Jelajaholic melakukan perjalanan ke kawasan alami dengan tujuan mengamati dan menikmati alam serta budaya lokal, sambil menjaga kelestarian lingkungan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat setempat. Jadi, eco-tourism bukan sekadar jalan-jalan ke gunung atau laut yang masih ‘perawan’. Ia menuntut komitmen bahwa setiap langkah wisatawan semestinya ikut menjaga hutan, menghidupi warga yang merawatnya, dan membuat kawasan itu tetap bisa dinikmati generasi berikutnya.
Pemerintah pun ternyata juga merespons serius pergeseran tren wisata ini. Kemenparekraf telah mendorong pengembangan wisata minat khusus di tiga sektor utama, yaitu gastronomi (kuliner), wisata bahari, dan wellness tourism, sebagai cara mengangkat citra Indonesia sebagai destinasi premium yang menawarkan alam, budaya, dan kesehatan dalam satu paket. Hasilnya, tahun 2024 Indonesia menerima sekitar 13,9 juta wisatawan mancanegara, naik 19% dari tahun sebelumnya. Hingga Juli 2025, jumlah wisman sudah mencapai 8,5 juta dan masih terus tumbuh.
Di balik kampanye dan data kunjungan, ada agenda yang lebih strategis: mengejar quality tourism sekaligus menjaga agar manfaat pariwisata benar-benar mengalir ke komunitas lokal. Hashtag #DiIndonesiaAja lahir dan tumbuh di persimpangan itu. Ia mengajak masyarakat menjelajah rumah sendiri bukan semata karena lebih hemat, tetapi karena di dalam negeri tersimpan kombinasi budaya, alam, kuliner, dan wellness yang justru sedang menjadi tren global.
Nah, para Jelajaholic, Jelajahin.com punya pertanyaan praktis buat kamu. Sebagai traveler domestik, bagaimana Jelajaholic bisa ikut menikmati tren ini dengan cara yang relevan dan terjangkau? Kali ini Jelajahin.com akan mengajak Jelajaholic menyusuri kekayaan wsiata Nusantara. Mulai dari desa wisata, menyusuri jalur kuliner, hingga berlabuh di wellness retreat yang menawarkan ruang pemulihan—semuanya #DiIndonesiaAja.
- Dari “Foto Cepat” ke Tinggal di Desa Wisata
Beberapa tahun lalu, paket wisata populer biasanya tidak jauh dari narasi “3D2N— city tour – wisata belanja – foto di landmark”. Sekarang, arah jarum kompas pelancong mulai bergeser ke desa wisata dan pengalaman hidup bersama warga lokal.
Outlook pariwisata 2025 menunjukkan bahwa cultural immersion menjadi salah satu motivasi utama perjalanan, berdampingan dengan eco-tourism dan wellness.
Di Indonesia, desa wisata hadir dalam banyak wajah. Mulai dari desa adat di pegunungan dengan rumah tradisional dan ritual yang masih hidup; kampung batik atau tenun yang memberi ruang bagi wisatawan untuk ikut membatik atau menenun; atau desa pesisir yang mengajak pengunjung melaut, belajar mengolah ikan, hingga ikut membersihkan pantai.
Ada banyak desa wisata yang bisa kita kunjungi di Indonesia. Yang suka ke Yokyakarta atau Jawa Tengah, silakan kunjungi Desa Wisata Nglanggeran di Gunungkidul yang menawarkan gunung api purba dan ekowisata berbasis komunitas, Desa Ponggok di Klaten dengan Umbul Ponggok sebagai ikon wisata air jernih untuk snorkeling dan foto bawah air, atau yang suka ke Bali bisa singgah di Desa Penglipuran di Bangli yang dikenal sebagai salah satu desa adat terbersih di dunia dengan tata ruang tradisional yang masih terjaga. Soal desa wisata, di setiap daerah di Indonesia pasti ada, silakan sesuaikan dengan minat Jelajaholic sendiri. Lain kali kita akan bedah mendalam beberapa desa wisata unggulan di Indonesia.
Bagi Jelajaholic yang ingin ikut menikmati tren ini, berikut ini tip menikmati liburan cultural immersion ala Jelajahin.com
- Pilih homestay, bukan sekadar hotel. Tinggal di rumah warga akan membantu Jelajaholic memahami ritme keseharian: jam berapa warga mulai ke sawah, kapan mereka berkumpul di pos ronda, bagaimana mereka memaknai tradisi mereka.
- Cari aktivitas berbasis partisipasi, bukan tontonan. Ikut kelas memasak lokal, belajar gamelan, ikut panen sayur, atau menemani anak-anak desa belajar.
- Booking waktu lebih panjang. Cultural immersion sulit terjadi dalam kunjungan 2–3 jam. Sisihkan minimal satu hari penuh untuk benar-benar “hidup” di desa tersebut.
Baca Juga: Menggali lagi Nilai Hanjeli
Desa wisata yang dikelola dengan baik bukan hanya memberi pengalaman baru bagi Jelajaholic sekalian, tapi juga mengalirkan pendapatan langsung ke warga dan menjaga tradisi tetap relevan.
- Wisata Gastronomi: Menjelajah Nusantara Lewat Rasa
Nah, gastronomi, wisata jenis apa lagi ini? Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) mendefinisikan wisata gastronomi sebagai perjalanan ke suatu daerah dengan makanan sebagai tujuan utama rekreasi—bukan sekadar “makan karena lapar”, tetapi menjadikan kuliner sebagai alasan bepergian itu sendiri.
Indonesia juga membaca tren ini dengan serius. Kemenparekraf menggulirkan berbagai inisiatif gastronomi, termasuk peluncuran program “Wonderful Indonesia Gourmet” bersama Indonesia Gastronomy Network untuk mengangkat kuliner Nusantara ke panggung global. Bahkan, sejumlah kota di Indonesia mulai masuk dalam daftar destinasi kuliner dunia versi media internasional, menunjukkan bahwa wisata rasa kita semakin mendapat pengakuan.
Para Jelajaholic sejati yang ingin menikmati tren ini juga tidak sulit:
- Mulai dari pasar tradisional. Daripada langsung ke kafe kekinian, datanglah lebih pagi ke pasar: lihat bagaimana bahan makanan lokal diperdagangkan, cicipi jajanan tradisional, dan dengarkan cerita pedagang. Ini akan memberikan sensasi rasa mendalam tersendiri. Bayangkan, apa saja proses yang telah dilakukan oleh banyak orang di balik sepotong gethuk goreng yang dijajakan si pedagang.
- Ikut tur gastronomi lokal. Di beberapa kota besar, sudah muncul walking tour bertema kuliner—menyusuri gang, lapak kaki lima, hingga kedai legendaris.
- Cari narasi di balik tiap hidangan. Tanyakan ke pemilik warung: asal usul resep, bumbu khas, atau momen spesial saat hidangan itu biasa disajikan. Di situlah esensi wosata gastronomi bisa Jelajaholic temukan.
- Eksplor kota satelit, bukan hanya kota besar. Tren menunjukkan kota-kota penyangga—dari Malang sampai berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat—kian agresif mempromosikan diri sebagai destinasi kuliner.
- “Nature & Eco-Wellness”: “Trekking, Glamping”, dan Hutan yang Menyembuhkan
Di tengah hiruk pikuk kota, wisata alam tidak lagi dipandang sebagai “pelarian sesaat”, tapi mulai menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Survei menunjukkan, eco-tourism dan wisata alam berkelanjutan tetap menjadi tren kuat 2025 dan tahun mendatang, seiring meningkatnya kesadaran lingkungan.
Secara global, wellness tourism—wisata yang menggabungkan perjalanan dengan aktivitas menjaga kesehatan fisik dan mental—diproyeksi tumbuh sekitar 8% per tahun hingga 2034. Ini menurut World Economic Forum Reports Di Indonesia, Kemenparekraf menegaskan bahwa health & wellness tourism menjadi salah satu fokus utama pengembangan pariwisata ke depan. (Indonesia Tourism).
Lantas, bagaimana cara menikmati tren ini? Ini tips-nya:
- Ganti satu hari “maraton destinasi” dengan satu hari penuh di alam. Misalnya, sehari khusus untuk trekking ringan ke air terjun atau bukit pandang, tanpa agenda lain.
- Coba glamping atau “eco-lodge”. Menginap di tenda nyaman atau kabin kayu di tengah hutan/pinggir danau memberikan kombinasi pengalaman alam dan kenyamanan.
- Praktik “leave no trace”. Bawa kembali sampahmu, pilih operator yang peduli lingkungan, dan dukung komunitas lokal yang menjaga area tersebut.
- Sisihkan waktu hening. Banyak Jelajaholic mulai mencari momen sunyi—sekadar duduk di tepi danau atau berjalan di hutan tanpa gawai—sebagai bagian dari perjalanan. Tren global menunjukkan meningkatnya minat pada retreat hening dan pengalaman alam yang minim distraksi (The Guardian).
Di sini, alam tidak hanya menjadi latar foto, tapi juga “ruang kerja” bagi tubuh dan pikiran untuk mereset diri.
- “Wellness Retreat & Mindful Travel”: Liburan sebagai Ruang Pemulihan
Jika dulu spa dan pijat tradisional hanya dianggap sebagai pelengkap hotel, kini wellness retreat menjadi alasan utama banyak orang bepergian. Laporan dan artikel internasional menempatkan wellness tourism dan transformational travel—perjalanan yang memberi perubahan makna bagi diri—sebagai salah satu tren kunci 2025 dan tahun-tahun berikutnya.
Indonesia mulai memosisikan diri secara strategis. Selain potensi spa berbasis rempah dan jamu, Kemenparekraf meluncurkan inisiatif seperti Bulan dan Hari Wellness Nasional untuk memperkuat brand Indonesia sebagai destinasi wellness di peta global.
Untuk menikmati tren ini coba praktikkan tips berikut ini:
- Pilih retreat yang menggabungkan alam plus kearifan lokal. Misalnya, program yoga di desa pegunungan, meditasi di tepi sawah, atau paket spa yang memanfaatkan jamu dan minyak tradisional.
- Rancang “diet digital”. Komit untuk membatasi gawai: hanya cek pesan pada jam tertentu, atau bahkan sengaja memilih lokasi dengan sinyal terbatas.
- Fokus pada kegiatan yang menyeimbangkan tubuh dan pikiran. Yoga, tai chi, workshop pernapasan, meditasi, atau sekadar journaling di tengah lanskap alam.
- Lihat liburan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pelarian singkat. Transformational travel mendorong wisatawan mencari perjalanan yang meninggalkan perubahan: kebiasaan hidup lebih sehat, hubungan yang lebih hangat dengan diri sendiri, hingga keputusan hidup yang lebih selaras.
Nah, Jelajaholic, Indonesia, dengan ribuan desa, kekayaan kuliner, dan lanskap alam yang berlapis budaya, adalah jawaban bagi kamu yang akan mengikuti tren ini. Setidaknya, saat pulang dari perjalanan, Jelajaholic tidak hanya akan bawa pulang foto yang dipamerkan, tetapi lebih kaya dari itu. Mungkin ngiang percakapan dengan ibu pemilik homestay di desa wisata. Mungkin resep sederhana yang kamu pelajari dari dapur warga, rasa tenang setelah duduk lama memandangi hutan atau laut, atau bahkan tekad kecil yang tumbuh perlahan tapi pasti untuk hidup lebih baik dan lebih sadar bahwa sebenarnya kita harus kembali ke hal yang paling dasar: menjadi manusia yang utuh saat bepergian—menyentuh alam, budaya, dan diri sendiri, dalam satu tarikan napas perjalanan #DiIndonesiaAja.




























