Menyusuri Lorong Waktu di Stasiun Bogor

Bangunan antik berusia 144 tahun ini seakan mengajak kita  membuka kembali lembaran Sejarah peninggalan zaman kolonial.

Stasiun Bogor

Jelajahin.com – Lengkingan  suara petugas stasiun lewat mikrofon  menginformasikan jadwal perjalanan kereta terus bergema di telinga para calon penumpang yang berlalu-lalang di sepanjang peron.  Derap langkah tergopoh-gopoh dari para pejuang nafkah tampak saling mendahului dan  begitu bersemangat menuju  akses  gerbang keluar masuk sembari menyiapkan kartu pembayaran elektronik. Sementara tim  pengamanan maupun petugas kebersihan telah bersiaga dan langsung bergerak untuk menjalankan tanggung-jawabnya.  Seperti inilah denyut kesibukan yang menjadi pemandangan sehari-hari di Stasiun Bogor dalam melayani penumpang  sejak dini hari hingga larut malam.

Stasiun yang berlokasi  di wilayah Cibogo, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor ini merupakan bnangunan cagar budaya warisan pemerintah kolonial Hindia Belanda dan masih berdiri kokoh hingga sekarang. Pengunjung dapat melihat papan penjelasan mengenai status penetapan Stasiun Bogor sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang terpasang di beranda samping pintu masuk dari arah Taman Alun-Alun Kota Bogor.

Berada di ketinggian lebih dari 246 meter,  Stasiun Bogor  termasuk dalam pengelolaan PT Kereta Api Indonesia Commuter  Jabodetabek  Daerah Operasi 1 Jakarta. Stasiun tipe A yang merupakan salah satu jalur lintas Kereta Rel Listrik Commuter Line  juga mengoperasikan Kereta Rel Diesel untuk melayani rute Bogor-Sukabumi.

Pada dinding bagian dalam bangunan yang didominasi warna putih ini terpampang angka 1881 sebagai penanda tahun berdirinya stasiun. Saat menapaki bangunan antik berusia 144 tahun ini seperti mengajak kita menyusuri lorong waktu dan membuka kembali lembaran sejarah zaman kolonial.

Gaya Eropa

Bagian pintu utama stasiun memiliki disain bergaya Eropa, sementara di ruang lobinya terdapat monumen berbahan marmer setinggi satu meter sebagai simbol ucapan selamat pagi. Adapun dinding bangunan terbuat dari bata plesteran bermotif guratan.

Dokumentasi yang dihimpun oleh Pemerintah Kota Bogor menerangkan, pada awalnya Stasiun Bogor  merupakan terminal pemberhentian terakhir untuk rute perjalanan Jakarta-Bogor (dulu Batavia-Buitenzorg). Pemerintah Kolonial Belanda membangun stasiun di tahun 1870 untuk mempercepat  waktu tempuh di saat transportasi masih mengandalkan delman.

Stasiun baru dibuka untuk umum pada 31 Januari 1873. Selama 40 tahun pertama, pengelolaan stasiun selama 40 tahun pertama dijalankan  oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Di tahun 1881, pembangunan Stasiun Buitenzorg tahap kedua dilanjutkan dengan jalur lintas Bogor-Bandung-Banjar-Kutoarjo-Yogyakarta.

Terdapat dua bangunan berdampingan di stasiun, yakni bangunan utama (seperti area masuk, lobi) dan bangunan kedua berupa  overcapping yang menaungi peron beserta jalur kereta api. Sedangkan jalur kereta berjumlah delapan jalur yang terbagi menjadi jalur sepur lurus tunggal/sepur lurus ganda Depok-Jakarta dan jalur sepur raya tunggal arah Cianjur-Padalarang

Daya magis begitu terasa ketika menatap langit-langit bangunan yang tinggi dengan sentuhan berbagai ornamen klasik yang tetap dipertahankan. Kini  kemajuan teknologi digital yang diterapkan dalam mendukung layanan penumpang secara optimal telah menghadirkan wajah stasiun yang tak sekadar artistik, tapi juga apik dan modern. -Novita Hifni